Selama empat tahun terakhir, Afghanistan juga telah meningkatkan status misi diplomatiknya menjadi kedutaan besar di beberapa negara.
Terlepas dari berbagai pencapaian ini, Afghanistan menghadapi tantangan berat. Pakar politik Amanullah Hotaki mengatakan sanksi dan campur tangan asing tetap menjadi hambatan utama. "Negara-negara Barat menyeret kami ke dalam konflik dan menghancurkan ekonomi kami," katanya. "Pemerintah sekarang harus mendengarkan rakyat dan menyelesaikan masalah mereka."
Kembalinya lebih dari 2 juta warga Afghanistan, termasuk setengah juta anak-anak, dari Iran, Pakistan, dan sejumlah negara lainnya pada 2025 saja, seperti dilaporkan oleh UNICEF, telah memperburuk persaingan untuk pekerjaan yang semakin langka.
Foto yang diabadikan pada 15 Juni 2025 ini menunjukkan pemandangan Kandahar di Afghanistan selatan. (Carapandang/Xinhua/Li Ang)
Zainul Abidin, seorang buruh di Kabul, setiap hari menunggu di persimpangan jalan untuk pekerjaan yang jarang datang. "Sejak para migran kembali, peluang kerja menghilang," katanya.
Demikian pula, Talee Mohammad, seorang pemilik toko, mengeluhkan penurunan perdagangan akibat berkurangnya bantuan internasional, sanksi, dan terbatasnya gaji pemerintah. "Bisnis dan keuntungan menurun," katanya. "Sanksi-sanksi ini sangat berdampak.