Beranda Feature Korban Ranjau di Afghanistan Kecam Perang, Serukan Perdamaian

Korban Ranjau di Afghanistan Kecam Perang, Serukan Perdamaian

Sejumlah pengguna kaki palsu berlatih dalam sesi fisioterapi di pusat rehabilitasi yang dijalankan oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul, Afghanistan, pada 26 November 2024. (Xinhua/Li Ang)

0
Xinhua

Mengenang musibah yang dialaminya, pria malang itu mengatakan bahwa pada 2001, ketika dirinya masih pelajar di Jalalabad, sebuah ranjau meledak dan membuat kakinya putus ketika hendak berwudu. "Perang tidak memberikan apa-apa selain kehancuran. Perang menghancurkan kehidupan, membuat orang menjadi cacat dan menghancurkan negara ini," keluh Amanullah.

Afghanistan yang hancur oleh perang merupakan salah satu negara yang paling banyak terkontaminasi ranjau. "Sekitar 15.000 hingga 16.000 orang penyandang disabilitas mendaftarkan diri kepada kami setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 di antaranya adalah penyandang disabilitas akibat perang," kata Najmudin Hilal, kepala rumah sakit ICRC di Kabul, kepada Xinhua di kantornya.

Sekitar 80 persen dari para penyandang disabilitas akibat perang itu terkena dampak ranjau dan kehilangan tangan atau kaki akibat ledakan ranjau, kata Najmudin Hilal.

Seorang pria bekerja di pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul, Afghanistan, pada 26 November 2024. (Xinhua/Li Ang)

Hilal sendiri juga merupakan korban ledakan ranjau. Dia menggambarkan ranjau darat sebagai "musuh yang sedang tidur". Hilal berkata bahwa dirinya berusia 18 tahun ketika sebuah ranjau mengakibatkan kakinya putus, membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama setahun untuk memulihkan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here