Mulai dari benih padi jenis 'banda' dengan ciri khas bulirnya berbulu adalah tanaman padi yang dikenal tahan hama dibandingkan jenis padi lainnya.
Jenis padi yang ditanam pada musim berjalan merupakan benih dari hasil panen tahun lalu dari sawah adat milik kerajaan. Begitu pula padi yang dikonsumsi keluarga kerajaan adalah hasil panen tahun lalu.
Hasil panen Katto Bokko ini setelah melalui prosesi adat, belum boleh dikonsumsi, tetapi akan disimpan di lumbung padi di atas loteng rumah adat Balla lompoa.
Barulah padi tersebut diturunkan dari loteng jika sudah ada penggantinya pada musim panen berikutnya yang sekali setahun prosesi adatnya.
Hasil panen sawah adat ini, selain untuk menghidupi keluarga kerajaan, juga diberikan pada masyarakat yang kurang mampu di sekitar Balla Lompoa sebagai wujud solidaritas sosial.
Tanaman padi di sawah adat ini pun hanya menggunakan pupuk organik dan proses bajak sawahnya tetap tradisional.
Khusus prosesi adat "Katto Bokko" yang digelar Kekaraengan Marusu yang dipimpin oleh Karaeng Sioja ini, diawali dengan penyambutan padi hasil panen raya dengan seloka-seloka suci oleh seorang lelaki kepercayaan raja untuk "A'ngaru" (berpuisi) penyambutan.
Selanjutnya, padi yang sudah diikat itu pun diarak naik ke ke rumah kerajaan, untuk mendapatkan prosesi berikutnya yakni didoakan oleh pinati dan Raja Marusu.