Untuk mencegah depresiasi lebih lanjut dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Leong menyarankan agar Bank Indonesia segera melakukan intervensi.
Wijayanto Samirin, seorang ekonom di Universitas Paramadina, mengatakan bahwa tarif-tarif tersebut akan mengikis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen, mengganggu pasar saham, dan mengakibatkan banyaknya PHK.
"Saham-saham dari beberapa sektor yang berorientasi ekspor akan menjadi semakin tidak stabil," sebutnya.
Selain itu, Wijayanto juga memperingatkan bahwa tarif AS akan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan di Indonesia, karena industri padat karya mendominasi ekspor Indonesia ke AS.