Sementara itu, komoditas seperti gas alam, kedelai, dan emas juga ikut anjlok, dan pasar saham global pun terguncang. Bank investasi JPMorgan kini memperkirakan peluang resesi global mencapai 60% pada akhir tahun, naik dari sebelumnya 40%.
Secara mingguan, Brent turun 10,9%, penurunan mingguan terbesar dalam satu setengah tahun terakhir, sedangkan WTI mencatat penurunan terbesar dalam dua tahun sebesar 10,6%.
"Menurut saya, ini mungkin sudah mendekati nilai wajar untuk minyak mentah sampai ada kejelasan mengenai seberapa besar permintaan yang benar-benar berkurang," kata Scott Shelton, Spesialis Energi dari United ICAP, dikutip dari Reuters.
Dia menambahkan kemungkinan besar harga WTI bisa turun ke kisaran pertengahan hingga atas $50-an dalam waktu dekat. Dia juga memperingatkan bahwa permintaan akan terpukul dalam kondisi pasar saat ini.
Chairman bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan bahwa tarif baru dari Trump lebih besar dari yang diperkirakan
Hal ini akan berdampak besar terhadap ekonomi termasuk inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang melambat kemungkinan juga akan signifikan. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya keputusan yang harus diambil oleh bank sentral AS ke depan.